Membuka Mata, Pikiran dan Hati

Perubahan demi perubahan telah terjadi, mulai dari pandangan, pola pikir serta status sosial…membuat gejolak hati pikiran dan tangan saya menulis diblog ini untuk berbagi pengalaman dan cerita.

mungkin dari lahir sampai sebelum menikah, belum pernah saya merasakan penderitaan dalam hal ekonomi dan banyak hal yang belum saya rasakan. Dengan kegigihan orang tua mereka tidak ingin anak merasakan kesusahan dan penderitaan dengan memberikan bekal ilmu yang banyak untuk hidup dan bekal ilmu agama untuk akhirat.

setelah menikah perubahan baru terjadi perubahan tempat dan hidup baru membuat banyak masukan dan pembelajaran baru juga bagi saya. awalnya saya agak merasa prihatin dengan keadaan lingkungan yg perbedaan  status ekonomi kelihatan bgt…apalagi pertama saya jalan-jalan masuk ke lorong-lorong rumah warga, rumah yg masih banyak beratap #gerebek (rajutan bambu), dengan kondisi lingkungan yg kurang bersih. ada rasa kasihan tapi inilah bukti bahwa belum meratanya ekonomi dan pembangunan kita.

berbeda jauh dengan kehidupan sblum saya, rumah-rumah yg sudah rapi dengan susunan pagar semen dideretan rumah warga, tempat sampah tersedia dimana-mana, hampir tidak ada lagi rumah yang berdinding rajutan bambu.

semua ini membuat saya lebih membuka mata, pikiran dan hati bahwa mereka harusnya juga merasakan hidup yang lebih baik. dan membuat saya lebih menghargai arti hidup dan pejuangan…beruntunglah saya masih bisa melihat dan ikut sedikit banyak penderitaan rekan dan saudara yang lain, disebelah bumi lain pasti ada  yang seperti ini bahkan lebih menderita.

tak henti mulut mengucapkan syukur alhamdulillah atas nikmat yang telah diberikan Allah kepada saya selama ini, dengan membuka mata hati saya menyadarkan bahwa lihatlah dibawah kita masih banyak kondisi yang memprihatinkan.

curahan hati (curhat) satu orang dengan orang yang lain hampir sama yaitu faktor pendapatan, entah apa yang salah, apa dari pemerintah setempat atau dari masyarakatnya..rata-rata pendapatan mereka sangat minim, apalagi untuk upah PRT (pembantu rumah tangga) di bawah standar, sedangkan biaya kebutuhan semakin meningkat, sehingga banyak sekali warga disini yang bekerja di luar negeri sebagai pembantu rumah tangga yang pendapatannya jauh lebih baik,  selama saya hidup disini banyak perbandingan harga dari tempat sebelumnya saya tinggal khususnya untuk kebutuhan makanan,

tempe dengan harga 200,- masih ada disini, sedangkan dulu di tempat orang tua saya uang 1000,- sudah hampir tidak ada harganya…perbedaan pembangunan dan perkembangan yang tidak merata, sedangkan harga-harga bahan pokok, sandang dan papan sudah mengikuti harga global.

hal-hal seperti ini yang membuat tempat ini kurang bisa dijadikan tempat berbisnis, dikarenakan orang-orangnya yang kurang konsumtif karena faktor ekonomi, sehingga perkembangannya sangat lamban.

entah kenapa, saya jadi berfikir aneh…kemana aja slama ini dana bantuan pemerintah pusat buat masyarakat yang ekonominya kebawah? jangan-jangan ga sampai sesuai mestinya (naudzubillah minzalik) sampai suudzon, tapi itulah adanya…dibilang korupsi, nyari buktinya ini yang sulit…

semoga ini tidak terjadi, dan sangat mengharapkan pembangunan yang merata dari berbagai aspek.

 

salam hangat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s